Penerbit
 
Belanja Anda
0 item
 
Metode PEMESANAN

Untuk PEMESANAN dalam jumlah besar dapat langsung menghubungi

081321881835

 
Metode Pembayaran


No. Rek : 3790109839
a/n Ronaik Milala
_____________________

bank mandiri
No. Rek : 1300010228248
a/n Ronaik Milala
_____________________

bank bri
No. Rek : 218401000044531
a/n Ronaik Milala
_____________________

 

Angin Burangrang

Angin Burangrang
Klik untuk memperbesar
Jika Pesanan anda diatas 50 exp, silahkan hubungi marketing kami 081321881835 untuk mendapatkan DISKON TAMBAHAN
Harga: Rp22,000
Penerbit: ULTIMUS
Kode Buku: ULT-00-00-002
ISBN: ISBN 979-99560-7-2
Pengarang: Samsir Mohamad
Ukuran:
Tebal:
Jenis Kertas:
Stok: Ada
Persentase rata rata: Tidak di rating

Jumlah: BELI

 

Samsir Mohamad, 81 tahun. 
Pada masa mudanya pernah ikut berjuang bersama pemuda-pemuda Menteng 31 sekitar proklamasi kemerdekaan. Turut bergerilya mempertahankan republik selama Agresi Militer Belanda. Usai penyerahan kedaulatan dari kerajaan Belanda, bersama beberapa orang kawan mendirikan ormas tani.  Pernah menjadi anggota Dewan Konstituante RIS dan anggota DPP Angkatan ‘45. Saat ini tinggal di Lereng Burangrang, Cisarua, Kabupaten Bandung. Menghabiskan masa tuanya dengan memancing, merokok, dan minum kopi, sambil sesekali turun gunung atas undangan beberapa para muda untuk berbincang-bincang….

Generasi perintis kemerdekaan dan pendiri republik, bagaikan raksasa tumbang satu per satu mendahului kita. Sajak-sajak Samsir adalah rekaman sejarah yang tak ternilai dari cita-cita, perjuangan, semangat, serta introspeksi mereka, bagaikan api yang akan senantiasa mengilhami generasi pewaris.
Ibarruri Sudharsonopenikmat sastra

Ungkapan yang muncul dalam kata atau kalimat, tak ubahnya merepresentasikan siapa sebetulnya diri kita. Samsir Mohamad mampu mengukur dirinya pada teks: alas cermin mewujudkan diri dengan kemanusiaannya.
Rahmat Jabaril, seniman-aktivis

Sajak-sajak dalam “Angin Burangrang” adalah sajak-sajak yang ditulis dengan kalimat yang sederhana namun kaya makna. Ada kesepian, kesunyian, dan kesendirian yang bergerak di dalamnya menyapa kita. Semua itu terjadi bukan karena ia semata-mata ditinggal pergi oleh istri tercinta untuk selama-lamanya, akan tetapi disebabkan pula oleh sebentuk pengkhianatan yang menyebabkan dirinya terlempar dari garis edar perjuangan yang diidealkannya. Secara esensial, itulah yang ingin diekspresikan Samsir Mohamad dalam kumpulan sajak ini yang ditulis dengan kalimat yang sederhana dalam tarikan napas sejarah yang luka: sejarah bangsa dan negeri ini, negeri yang kini carut-marut dihajar bencana alam dan krisis multi dimensi dalam berbagai sendi kehidupan.
Soni Farid Maulanapenyair

Buku ini kesaksian seorang sepuh yang telah melewati masa-masa genting republik ini. Ia patut dipercaya karena kesaksiannya, karena kejujurannya, karena penderitaannya, karena ia “berani menanggung dosa masuk neraka” untuk bersaksi. Semuanya sebuah keluhan panjang, bukan tentang dirinya, tetapi tentang nasib rakyat seperti disaksikannya. Keindahannya terletak pada keterbatasan dan kejujurannya. Juga pada empirinya. Inilah Indonesia yang dia telah ikut ambil bagian dalam membangun berdirinya. Dan dia disingkirkan oleh pemerintah yang dia ikut membentuk adanya.

Tulis Ulasan
Nama anda:


Review Anda: Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Masukkan kode di dalam kotak di bawah ini:

Tidak ada gambar tambahan untuk produk ini.
There are no product.