Penerbit
 
Belanja Anda
0 item
 
Metode PEMESANAN

Untuk sementara pemesan satuan dapat dilakukan melalui marketplace di bawah.


Untuk PEMESANAN dalam jumlah besar dapat langsung menghubungi

081321881835

 
Metode Pembayaran


No. Rek : 3790109839
a/n Ronaik Milala
_____________________

bank mandiri
No. Rek : 1300010228248
a/n Ronaik Milala
_____________________

bank bri
No. Rek : 218401000044531
a/n Ronaik Milala
_____________________

 

Asep Sambodja Menulis

Asep Sambodja Menulis
Klik untuk memperbesar
Jika Pesanan anda diatas 50 exp, silahkan hubungi marketing kami 081321881835 untuk mendapatkan DISKON TAMBAHAN
Harga: Rp75,000
Penerbit: ULTIMUS
Kode Buku: ULT-00-00-003
ISBN:
Pengarang: Slamet Wahedi
Ukuran:
Tebal: xiv +378 halaman
Jenis Kertas:
Stok: Ada
Persentase rata rata: Tidak di rating

Jumlah: BELI

 

Sejarah sastra Indonesia adalah jejak rekam estetika yang ditulis di tengah ketegangan ‘intrik’ pelaku seni dan ambisi politik kekuasaan. banyak peristiwa dan sosok yang kadang terlupakan. Begitu juga banyak gagasan dan pernyataan yang perlu dipertanyakan.

Sejak awal perintisannya (meminja istilah A. Teeuw), kita sepakati pada 1920-an sejarah Indonesia bergerak dalam sangkar ‘emas’. Pihak Belanda yang bertindak sebagai pemegang otoritas penerbitan membonsai dan mengebiri gagasan para pengarang dengan lembaga Balai Pustaka-nya. Bahkan lewat lembaga itu pula , pihak Belanda melabeli beberapa karya anak pribumi dengan tanda silang merh dan isu miring.

Pada masa pasca kemerdekaan, tepatnya pada 1960an, ketegangan sejarah sastra Indonesia semakin menmukan muaranya. Polemik kebudayaan antara Lekra dan Manikebu yang tanpa dihindari juga merupakan ketegangan politik, melahirkan kutub pahamsastra yang terus tarik menarik. Hingga kini, realisme sosialis yang diusung Lekra dan Humanisme Universal yang dikumandangkan Manikebu terus bergulat, bernegosiasi.

yang lebih parah keduanya pun saling sikut. Tak ayal, sejarah sastra yang lahir adalah sejarah sastra yang ditulis dan diperuntukkan orang-orang berkuasa. Dengan kata lain, perjalanan sastra Indonesia mengalami reduksi kenyataan dan kebenaran.

Lalu, bagaimanakah seharusnya sejarah sastra itu ditulis dan dipahami? Mungkin jawaban atas pertanyaan itulah yang dicoba diemban buku Asep Samboja menulis, Tentang sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra.

Tulis Ulasan
Nama anda:


Review Anda: Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Masukkan kode di dalam kotak di bawah ini:

Tidak ada gambar tambahan untuk produk ini.
There are no product.